Friday, July 15, 2005
laporan bupati ngada
DAMPAK BENCANA KEKERINGAN DAN KLB BUSUNG LAPAR DI KABUPATEN NGADA
I. D A S A RSurat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI Nomor B/127/Menko Kesra/VI/2005 tanggal 3 Juni 2005 dan Surat Gubernur NTT Nomor Binsos 365/08/2005 tanggal 1 Juni 2005.
II. L A T A R B E L A K A N G
Pemenuhan pangan dan gizi rumah tangga baik dalam hal jumlah, mutu dan aman dikonsumsi merupakan hal yang urgen dalam membangun basis ketahanan pangan yang kuat untuk mewujudkan ketahanan pangan Nasional.
Dalam rangka pemenuhan pangan dan gizi tersebut banyak kendala yang dihadapi khususnya dalam usaha peningkatan produksi dan produktivitas Pertanian, disamping itu kondisi iklim yang tidak menentu berupa kekeringan panjang antara bulan Januari sampai dengan awal Juni 2005 yang menyebabkan kematian dan kerusakan tanaman. Oleh karena itu konsekuensi langsung dari akibat tersebut yaitu adanya kehilangan hasil Pertanian tanaman Pangan sebagai makanan pokok masyarakat yang berdampak pula pada memburuknya kesehatan Balita dan Ibu hamil.
Mendasari permasalahan tersebut di atas, melalui sistem kewaspadaan pangan dan gizi Pemerintah berupaya mencari solusi penanganan baik terhadap dampak kekeringan maupun bagi Balita Kurang Gizi dan Ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) secara dini melalui upaya koordinasi secara menyeluruh dengan berbagai Instansi dan didukung dengan dana APBD Kabupaten serta partisipasi aktif masyarakat sehingga dapat mengatasi permasalahan tersebut.
III. GAMBARAN UMUM BENCANA KEKERINGAN
DAN KLB BUSUNG LAPAR
A. BENCANA KEKERINGAN.
Potensi lahan pertanian di kabupaten Ngada dapat digambarkan sebagai berikut :
Luas Lahan Basah : 14.947,23 Ha
Luas Lahan Kering : 133.517,72 Ha;
Luas lahan fungsional sebesar :
Lahan basah : 9.187,85 Ha
Lahan kering : 59.156,93 Ha
· Padi Sawah :
Luas tanam : 8.031 Ha
Luas panen : 6.889,68 Ha
Produksi : 23.061,64 ton
· Padi Ladang :
Luas tanam : 4.083,97 Ha
Luas panen : 3.991,50 Ha
Produksi : 7.284,33 ton
· Jagung :
Luas tanam : 15.258,89 Ha
Gagal panen : 3.725,75 Ha
Luas panen : 10.379,826 Ha
Produksi : 24.911,58 ton
Kebutuhan Lain-lain (15%) : 3.736,74 Ton
Equivalen Beras : 21.174,84 Ton.
· Jumlah Produksi Padi Sawah dan Padi Gogo s/d Mei 2005 sebanyak : 30.345,97 ton .
· Jumlah Beras yang tersedia (Rendemen 65 % ) = 16.766,17 ton;
· Jumlah produksi beras 16.766,17 ton jika dibandingkan dengan jumlah penduduk 240.012 jiwa, maka untuk konsumsi selama 6 bulan pertama diperlukan 12.430,2 ton beras;
· Jumlah beras yang tersedia setelah dikurangi dengan jumlah yang telah konsumsi penduduk maka diperkirakan stok beras sebanyak 4.335,97 ton;
· Dari ketersediaan pangan tersebut penyebarannya tidak merata mengakibatkan ada kecamatan yang mengalami kekurangan pangan;
· Lahan yang mengalami kekeringan seluas 4.674,78 ha (11,71 %) dan jika dirinci sesuai jenis bencana alam sebagai berikut :
o Luas lahan kekeringan : 2.137 Ha
o Luas lahan puso : 1.628,77 Ha yang tersebar di 9 Kecamatan dan 69 Desa dengan rincian :
Q Tingkat Resiko Tinggi 24 Desa (data terlampir)
Q Tingkat Resiko Sedang 15 Desa (data terlampir)
Q Tingkat Resiko Ringan 24 Desa dan
Q Tingkat Resiko Aman 6 Desa
· Dari ketersediaan pangan tersebut penyebarannya tidak merata mengakibatkan ada kecamatan yang mengalami kekurangan pangan;
· Dampak kekeringan mengakibatkan gagal panen lahan padi sawah dan padi ladang seluas 1.233,9 ha atau 4.195,3 ton.
· Kebutuhan riil bagi 39 Desa (7.335 KK) rawan pangan dengan asumsi tiap KK mendapat 10 Kg selama 6 bulan = 440,1 Ton atau Rp. 1.210.275.000,-
· Intervensi Pemda jangka pendek berupa bantuan beras bagi 7.335 KK yang terkena dampak kekeringan sebanyak 73,35 Ton ( 7.335 KK x 10 Kg x 1 bulan).
· Kekurangan yang diharapkan dari bantuan Propinsi sebanyak 366,75 Ton atau Rp. 1.008.562.500,-
B. KONDISI KESEHATAN BALITA DAN IBU HAMIL
Ø Jumlah Balita : 27.162 anak
Ø Jumlah Balita yang terdaftar dan memiliki KMS : 27.096 orang
Ø Jumlah Balita yang tertimbang : 18.364 orang atau 67,6 % dari jumlah Balita.
Ø Jumlah Balita yang naik berat badannya : 11.839 orang
Ø Jumlah Ibu Hamil : 6.519 orang yang menderita Kekurangan Energi kronik (KEK) sebanyak 296 orang (data penyebaran terlampir).
Ø Kondisi Gizi Balita dari Balita yang ditimbang:
* Gizi Baik : 14.519 orang ( 79,07 %)
* Gizi Kurang : 3.715 orang (20,23 %)
* Gizi Buruk : 130 orang (0,7 %)
Ø Jumlah Balita yang tidak ditimbang di Posyandu 8.798 orang sehingga Balita-balita tersebut tidak dapat diketahui kondisi gizinya.
Ø Gambaran Balita Gizi Buruk terlampir.
Ø Jumlah Balita yang mengalami Gizi Buruk pada daerah kekeringan pada resiko tinggi sebanyak 29 0rang, dan pada daerah kekeringan dengan resiko sedang 7 orang sedangkan 94 orang berada pada daerah dengan resiko ringan.
Ø Jumlah Balita yang tidak ditimbang sebanyak 8.798 orang, jika diprediksikan prosentasi kondisi gizi Balita tersebut sesuai prosentase gizi balita yang ditimbang, maka :
* Gizi Baik : 6.956 orang;
* Gizi Kurang : 1.780 orang;
* Gizi Buruk : 62 orang.
IV. P E R M A S A L A H A N
Kekeringan dan gangguan kesehatan masyarakat ini terjadi disebabkan antara lain :
1. Curah hujan sangat minim dan tidak merata;
2. Kurangnya sarana pengolahan lahan kering sehingga terjadi keterlambatan saat tanam;
3. Sikap mental Petani yang kurang tanggap terhadap perubahan iklim;
4. Terbatasnya modal usaha Petani sehingga pelaksanaan kegiatan usaha Tani tidak sesuai dengan rencana.
5. Terbatasnya diversifikasi pangan;
6. Tidak tersedianya varietas padi / palawija yang tahan kering;
7. Jangkauan pelayanan kesehatan kurang merata mengakibatkan terdapat Balita yang tidak tertimbang;
8. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan;
9. Pola Asuh dan Pola makan kurang teratur;
10. Keterlambatan masyarakat menyetor data Raskin sehingga menyebabkan penyaluran beras Raskin tidak sesuai dengan periode yang telah ditentukan.
V. U P A YA P E M E C A H A N
Upaya Pemerintah baik jangka pendek maupun jangka menengah dalam rangka mengatasi dampak kekeringan dan gizi buruk bayi dan Balita adalah sebagai berikut :
Jangka Pendek :
1. Pendropingan beras ke Desa-desa yang mengalami gagal panen akibat kekeringan sebanyak 10 Kg/KK untuk 1 (satu) bulan atau sebanyak 73,35 Ton dari APBD Kabupaten Ngada;
2. Penyaluran Raskin; realisasi penyaluran Raskin dari Pebruari s/d Mei 2005 sejumlah 1.970 ton dari plafond 4.126 ton (47 %) ;
3. Pemberian Kredit lunak untuk pengadaan sarana dan prasarana penangkapan ikan bagi nelayan di Aimere Barat, Warupele II dan Inerie;
4. Pemberian Makanan Tambahan untuk Balita dengan rincian : 130 orang x Rp. 5.000,- x 60 hari = Rp. 39.000.000,-;
5. Pemberian Makanan Tambahan untuk Ibu Hamil yang Kurang Gizi dengan rincian : 296 org x Rp. 7.000,- x 30 Hari = Rp. 66.600.000,- ;
6. Pendataan Balita yang tidak tertimbang sebanyak 8.798 orang;
7. Menggalakan Gerakan Jumat Bersih;
8. Sosialisasi dan Penyuluhan Kesehatan kepada masayarakat;
9. Demplot Rumput laut di Desa Wokodekororo dan Lengkosambi;
10. Pencetakan sawah garam dan produksi garam tambak di Mbay II, Kaburea, dan Tonggurambang;
11. Pemberian Kredit lunak untuk pengadaan sarana dan prasarana penangkapan ikan bagi nelayan di Aimere Barat, Warupele II dan Inerie.
12. Padat Karya Pembangunan Sarana Air Bersih, Polindes, Gedung TK, gedung SD pada Desa Rawan Pangan melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dana APBN.
Jangka Menengah :
1. Peningkatan Produksi dan Produktivitas Pertanian (diversifikasi usaha sesuai agroklimat dan biofisik wilayah);
2. Mekanisasi Pertanian (pengadaan traktor dan pompa air);
3. Penyuluhan demo usaha tani padi hemat air;
4. Pembuatan jebakan air, reboisasi dan penghijauan;
5. Pengembangan Perikanan tangkap melalui pengadaan sarana dan prasarana penangkapan ikan
6. Pengembangan budidaya rumput laut melalui penyediaan sarana produksi
7. Pencetakan sawah garam dan produksi garam tambak di Mbay II, Kaburea, dan Tonggurambang;
8. Pelatihan Pembuatan Tahu, dan Tempe di Ngada Bawa, Soa, dan Wolowae;
9. Latihan Pengolahan Kacang Mete di Gerodhere dan Boba;
10. Pelatihan Pengolahan Pisang di Desa Sawu;
11. Bantuan benih kacang hijau untuk desa Tendakinde, Anakoli dan Nggolonio;
12. Pengadaan sarana air minum untuk ternak dengan sistim hidran;
13. Pengadaan Embung-embung untuk menunjang upaya pengembangan hijauan makanan ternak;
14. Pengadaan bibit ternak sapi potong, kambing lokal, babi batam, dan paronisasi sapi potong;
15. Peningkatan kegiatan di Posyandu;
16. Sosialisasi dan Penyuluhan bidang Kesehatan;
V. P E N U T U P
Demikian Laporan ini dibuat untuk disampaikan dan dibahas pada Rapat Koordinasi Dampak Bencana Kekeringan dan KLB Busung Lapar . Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Ngada menyadari sepenuhnya akan keterbatasan yang dimiliki, untuk itu bantuan serta dukungan kebijakan dan dana dari Pemerintah Tingkat Propinsi dan Pusat sangat kami harapkan. Atas perhatian dan dukungan Pemerintah Propinsi dan Pusat, kami atas nama Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Ngada mengucapkan limpah terima kasih.
Semoga Tuhan memberkati usaha kita.
BAJAWA, 16 JUNI 2005
PENJABAT BUPATI NGADA
SIMON DAVID BOLLA